CERITA PENDEK - PEREMPUAN DI BATAS KUTUKAN

 

Perempuan Di Batas Kutukan

 

“Barang siapa enggan berpuas pada dirinya dan dunianya sendiri,

tiada sanggup menerima apa-apa yang cukup serta mengasihani dan mengasihi siapa-siapa

maka ia takkan lelah mengingkari kemahaan Dia yang menyertai

dalam dirinya sendiri.”

 

            Suatu sore yang mendung, awan-awan yang menguasai bumi seperti enggan menampakkan keceriaannya yang cerah hari itu. Orang bilang, sesuatu yang besar dan menguasai akan berdampak pada hal kecil disekitarnya. Begitu pula dengan langit yang menaungi bumi yang keparat ini.

Nampaknya, kemurungan langit tertuju pada bumi dan seisinya, paling nyata itu ada pada diri seorang gadis yang sedang berdiri terpaku dan kaku, mendongak memandangi sesuatu yang besar di depannya, sebuah plang besar bertanda yang menunjukkan tempat di mana ia berdiri kikuk sekarang, “Stasiun Wengi”. Dari posturnya palingan gadis ini usianya baru lima belas, mungkin juga enam belas, palingp parah menginjak angka tujuh belas.

Lihatlah! Posisi ia berdiri menghalangi orang-orang yang hendak masuk ke stasiun. Tubuhnya yang tidak begitu memakan tempat tetap saja menghalangi mereka-mereka, yang hendak berebut mengejar jam keberangkatan, sebab kereta hari ini adalah layaknya sebuah penantian panjang.

Kereta ini akan datang dua bulan lagi, memulangkan orang-orang yang hari ini pergi, kemudian akan kembali dua bulan dari kepulangannya dan akan datang kembali untuk menjemput. Sama halnya dengan orang-orang yang menumbruk bahu gadis itu, kanan dan kiri, bahkan ada yang menyumpahi dan meludahinya karena menghalangi jalan orang-orang yang akan masuk stasiun.

“Awas goblok, tolol, jangan menghalangi jalan!”

“Hei, jangan berdiri di situ, dasar anjing!”

Gadis itu terhenyak sadar dari lamunan dan pandangan kosongnya yang masih mendongak menatap plang stasiun. Berjalan masuk stasiun tanpa menoleh ke arah luar.

            Nama gadis itu Me. Hanya Me. Tidak ada nama panjang, tidak ada nama lainnya. Satu-satunya yang ia syukuri adalah pemberian dari orang tuanya adalah pemberian nama untuk dirinya. Meski, hidupnya tidak sesederhana namanya.

Me menatap ke luar jendela kereta. Matanya menerawang kaca jendela yang hampir berkabut oleh napasnya sendiri yang terus menderu menabrak kaca jendela. Me tetap menatap lurus ke arah luar, seolah sepasang mata bening bundarnya bisa meloncati buramnya kaca, tetapi Me bisa memandang dengan jelas orang-orang yang berada di luar jendela.

Me seperti sedang menonton pertunjukkan, orang-orang di luar sana adalah para aktor yang sedang memainkan lakon di kepalanya. Me melihat seorang perempuan, belum terlalu tua, dan kedua anaknya yang masih balita—satu dalam genggaman tangan kirinya yang saling bertaut—satu lagi dalam gendongan yang kain sampingnya sudah hampir tidak lagi jelas motif dan warnanya—mengantar ayah dari anak-anaknya kembali ke kota. Tenang saja, lelaki itu pasti akan setia meski jauh dari istrinya, lihat saja air mukanya yang begitu enggan berpaling dan membalikkan tubuhnya untuk naik ke kereta.

“Aku akan pulang dua bulan lagi, ya. Jangan lupa kau jemput aku kembali di sini. Aku menyayangi kau dan anak-anak,” lelaki itu membelai kepala wanitanya.

“Aku dan anak-anak akan menjemputmu kembali.”

Untuk terakhir kalinya sebelum lelakinya naik ke kereta, mereka berpelukan mesra, erat sekali hingga si anak dalam gendongan mulai rishi merengek hampir kehabisan udara lepas dan ruang geraknya.

Me memperhatikan ada yang menggenang di mata perempuan itu—tapi tidak lama—buru-buru dilap dengan ujung kain gendongan anaknya. Lelakinya sudah naik kereta dan tak nampak lagi.

“Anakku… Ibu pasti akan sangat merindukanmu, Sayang. Satu minggu kepergianmu mungkin ibu tidak akan bisa tidur nyenyak dan akan terjaga di kamarmu.”

Me mendengar tangisan seorang ibu yang juga memeluk anaknya di balik kaca jendela kereta. Orang tua setengah baya mengantar seorang anak laki-laki. Me menduga, anak lelaki itu terlalu muda untuk pergi bekerja, pasti ia akan merantau melanjutkan pendidikannya di luar pulau. Me tahu betul, sekolah tinggi belum lagi ada di desanya dan desa anak lelaki itu.

“Beri ibu kabar jika kau sudah tiba di sana, ya, Nak,” sang ibu merapatkan mantel sang anak, hampir saja anak itu tercekik oleh mantelnya sendiri. “Begitu tiba, kau jangan lupakan makan karena itu penting agar kau tidak sakit.”

“Jangan terlalu berlebihan, dia anak lelaki, kau tidak perlu sekhawatir itu,” suaminya menimpali, wajahnya cuek, namun Me tahu hatinya pasti lemah juga melepas anaknya pergi.

            Sementara sang anak hanya mengangguk mengiyakan semua perkataan ibunya.

            Tiba-tiba tetesan gerimis turun di jendela kereta. Pandangan Me kabur sementara belum selesai menyaksikan pertunjukkan di luar sana. Me mencoba menerobos gerimis yang semakin membuat pandangan matanya kabur.

            Me terus menggosok-gosokkan kerah bajunya di jendela, berusaha untuk memperjelas layar jendela kereta. Lumayanlah, pikir Me. Sekarang ia bisa kembali menonton pertunjukkan itu. Namun, bukan laki potongan adegan orang tua paruh baya yang mengantar anak lelakinya. Bukan juga perempuan dan kedua anak balitanya yang mengantar suaminya. Mereka semua sudah hilang di luar sana.

            Me melihat seorang anak perempuan yang meringkuk memeluk kedua lututnya di ujung jendela. Tak begitu jelas wajahnya, sebab ia menunduk terlalu dalam.

            “Hei, anak perempuan. Mengapa kau meringkuk di pojokan sana? Bukankah kau tidak ada pertunjukkan sore ini?” Me meneriakinya dari dalam kereta.

            “Hei, kau mendengarku tidak? Kau ini sedang menampilkan lakon apa?”

            “Kau dengar aku tidak? Ke mana para pemain tadi?” Me terus meneriaki anak perempuan itu hingga ia perlahan menatap Me. Tatapan itu, tatapan yang ia pernah miliki. Me seperti mengenali anak perempuan itu.

            Tiba-tiba anak perempuan itu menangis, air matanya tapi bukan air mata. Kenapa air matanya tidak bening? Me bertanya keheranan pada dirinya sendiri. Air mata itu berwarna hitam pekat, teksturnya lebih kental dari air mata biasanya.

            Me terheran-heran, sebelum menemukan jawaban sebab air mata itu kenapa berwarna hitam pekat, tangisan anak perempuan itu semakin berisik. Anak perempuan itu mulai merintih, berteriak-teriak, hingga siapa saja yang mendengarnya kan merasa pilu. Me ikut menangis melihat lakon yang dimainkan anak perempuan itu.

            Anak perempuan itu mulai berdiri dan mendekat kea rah jendela kereta, pandangannya tidak lepas dari Me. Me juga menatap balik kepada anak perempuan itu. Mereka saling tatap, memandangi dalam-dalam dan menangis bersama.

            Belum sampai anak perempuan itu ke hadapan kaca jendela kereta, seseorang menyeretnya dari belakang. Lalu, membanting tubuh anak perempuan itu tanpa ampun. Tubuh anak perempuan itu berdepbam ke lantai, hingga Me dapat mendengar suara tulang punggungnya membentur lantai.

            “Hei, kau siapa? Jangan lakukan itu kepada anak perempuan itu,” Me menghardik sosok yang menarik anak perempuan itu. “Ayo, tunjukkan wajahmu, kau semena-mena sekali kepada anak perempuan itu.”

            Me ingin menolong anak perempuan itu, namun ia tidak bisa melakukan apa-apa. Tubuhnya terkunci di kursinya. Lagi pula anak perempuan itu berada di luar kereta. Me hanya bisa menyaksikannya di dalam kereta. Jika Me pergi ke lyar untuk menolong anak perempuan itu, bisa-bisa Me akan ditinggalkan keretanya.

            Orang yang menarik anak perempuan itu datang lagi membawa sekerat kayu lalu memukuli anak perempuan itu dengan kayu di tangannya. Anak perempuan itu menjerit kesakitan, tangisannya pilu, pilu sekali membuat hati Me ikut merasakan sakit yang di derita anak perempuan itu.

            “Hei, berhenti!!! Cukup! Ini sudah keterlaluan, kau harus hentikan pertunjukkan ini,” Me mulai berteriak-teriak, tapi percuma orang itu tidak mendengar apa-apa. Ia terus memukuli anak perempuan itu, dari kaki, punggung, sekarang wajah anak perempuan itu juga dihabisi oleh orang itu.

            “Kumohon berhenti, aku sudah tidak sanggup melihat anak perempuan itu,” Teriakan Me semakin melemah, berubah menjadi rengekan kesedihan yang minta diampuni. Orang itu tetap memukuli anak perempuan itu. Satu persatu anggota tubuhnya tercerabut dari tubuh utuhnya. Giginya hancur, tulang kakinya sudah patah, darah di mana-mana. Merah darah dan hitam pekat tangisan anak perempuan itu bercampur, sudah membaur.

            Me memejamkan mata dan menutup kedua telinganya.

            “Dasar pembunuh, kau tidak akan aku biarkan hidup. Dasar pembunuh!”

            “Kau harus mati seperti adikmu yang telah kau bunuh.”

            Me membuka matanya dan mendapati darah anak perempuan itu menyiprat ke jendela kereta, tepat di depan pandangan Me. Orang itu bersuara. Me terbelalak, ia mengenal suara itu. Suara orang yang menyiksa anak perempuan itu tidak asing bagi Me.

Tapi benarkah orang itu? Bukankah orang itu sudah mati? Bukankah orang itu sudah membunuh dirinya sendiri? Tidak mungkin orang itu hidup kembali.

Sebelum Me memastikan suara orang yang menyiksa anak perempuan itu adalah benar suara ibunya, peluit kereta melengkik panjang, mengalahkan suara tangisan pilu anak perempuan di luar jendela kereta.

Kini, Me tidak lagi mendapati dirinya terduduk di kursi keretanya. Ia meringkuk di sudut ruang asing, hawa dingin merasuki tubuhnya. Me mencoba bergerak, namun pergerakannya menciptakan nyeri yang begitu hebat di sekjur tubuhnya sendiri.

Tubuhnya dipenuhi darah, Me mulai menangis. Ia merasa sakit, perih, dan tubuhnya telah hancur. Me berteriak mendapati air matanya tidak berwarna bening, layaknya air mata.

Me masih bisa melihat sekitar, matanya kini beradu pandang dengan seseorang di kejauhan di balik jendela kereta. Seorang anak perempuan, menatapnya penuh iba.

Dan kereta itu siap berangkat, meninggalkan Stasiun Wengi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HARI AGUNG: HARI LAHIR TANPA PERAYAAN