HARI AGUNG: HARI LAHIR TANPA PERAYAAN

BAGIAN I: HAPPY OLD YEAR

    Dua minggu lalu, seorang kawan kenalan merekomendasikanku sebuah film yang (katanya) bagus dan cocok untukku. Malam ini, sepuluh menit sebelum ide menulis ini lahir, baru kutuntaskan film itu. 

   Happy Old Year, judul film itu. Aku dan kawanku lumayan sering  bertukar film yang pernah kami tonton. Saat itu kami pergi nonton bersama. Namun, bukan Happy Old Year yang kami tonton, melainkan film Fantastic Beast: The Secrets of Dumbledore.

    Singkat cerita, selepas memasuki ruang teater dan berhasil menemukan kursi kami,kuberikan tiket nonton itu kepadanya. 

    "Simpan saja, biasanya cewek suka koleksi tiket nonton 'kan?"

    Sejujurnya aku tidak biasa menyimpan tiket nonton. Entah, memilihnya menyisipkan  di sela-sela dompet sama seperti memilih menyimpan sampah bukan pada tempatnya. 

    Baiklah, mari pahami bahwa setiap barang memiliki emosi masing-masing. Aku paham betul arti berharga. Berlaku sama untuk barang-barang pemberian dari orang-orang yang mengasihi kita dengan tulus dan tanpa batas.

    Sepanjang hidupku, tak terhitung berbagai macam pemberian yang kuterima dari kawan-kawan juga keluarga. Dalam jumlah banyak pemberian itu datang di hari ulang tahunku. Lain dari itu, pemberian kerap muncul saat suatu pencapaian kuperoleh. Selepas pentas. Memenangkan lomba. Lepas proker. Dan momen berharga yang entah apa sebutannya. 

    Sebelum kata-kata terlalu banjir kaubaca, aku ingin katakan beberapa hal. Hal ihwal, tak ada kumaksud untuk menyakiti hati siapa-siapa di sini. Aku menyayangi dan menghargai kalian dengan dalam. Hai, kawan-kawanku yang membaca! Jikapun tulisan ini melahirkan ketaknyamanan, maafkan aku. Itu di luar kendaliku. 

     Selanjutnya, paragraf ini untuk kalian yang pernah memberikan tanda sayang itu dalam bentuk-bentuk barang yang menarik nan manis. Terima kasih, ya! Walau beberapa tak bisa lagi kugunakan, barang-barang itu masih kusimpan. Sebagian yang tidak bisa hidup lebih lama, kularungkan. Apakah, kalian berkenan untuk kukembalikan pemberian kalian suatu saat jika sudah tidak sanggup kujaga? Bukan apa-apa, barang-barang itu akan kuabadikan dalam foto. 

    2019, menemukan Marie Kondo. Mungkin akan kuceritakan proses mengenal buku-bukunya lain waktu. 

    Maju lebih cepat, sejak itu aku mulai sering membaca buku- bukunya dan menonton documentary-nya. Lain waktu juga kubawa pengalaman itu ke tulisanku, ya. 

    Pemicuku menerapkan konsep hidup Konmari berangkat dari keresahan yang tidak kunjung sembuh sejak masa sekolah. Kepenatan yang berkepanjangan juga ketidakberhargaan diri yang hidup lama sekali membuatku tidak sanggup menolong diri sendiri.

    Konsep merasa cukup dan bersyukur. Agaknya jalan ninja itu datang juga. Dalam agamaku sendiri, hendaknya manusia itu merasa lapang dan sederhana. Itu hidup yang agung sesungguhnya.

    Happy Old Year membawa pesan itu. Walau menerpa segala kesulitan memulai hidup yang baru, Jean (sang tokoh utama) membuatku jatuh hati berkali-kali dan merasa hidup bersamanya.

    Terima kasih tuk seseorang yang membawa dengar film ini kepadaku. 


BAGIAN II: KEBETULAN DAN PERAYAAN

    Aku tidak pernah suka perayaan. Orang-orang berusaha menyayangiku dan membuatku berharga secara mati-matian. Orang-orang berusaha mengingat hari lahirku setiap tahun, tak ayal mereka menandai kalender mereka, hanya untuk mengingatku di hari itu.

    Menyita waktu, tenaga, kantong, juga hal-hal yang membuatku merasa bersalah karenanya. 

    Belum lagi waktu-waktu yang kian dewasa ini, beragam bentuk penghargaan terhadap orang lain kian ribet jenisnya. Menandai mereka di aktivitas harian kita di sosial media misalnya. 

    "Kita tidak pernah se-spesial itu di mata semesta. Maka, merasa cukuplah atas dirimu."

    Kalimat di atas tidak persis seperti pesan aslinya. Tapi seperti itulah. 

     Kita tidak pernah se-spesial itu untuk seluruh semesta turut merayakan hari lahir kita. Terkadang, kita harus bisa camkan bahwa semua hal penuh dengan kebetulan. 

   Bulan ini, kebetulan saja diriku Tuhan takdirkan menjajaki dunia ini. Merasa cukup. Penuh syukur. Sudah. Tak boleh lupa untuk perbanyak berterima kasih dan maaf tuk diri sendiri.

  Hal yang sama 'mungkin' akan berlaku bagi hari-hari 'penting' yang akan datang kepadaku, seperti hari pernikahan misalnya. Tapi, manusia akan selalu berubah. 

     Semoga hidupku cemerlang selalu dan penuh dengan welas asih. Cukup.

     Semoga hidupku terus bertumbuh dengan sederhana. Cukup.


BAGIAN III: EPILOG

     Meski begitu, tulisan ini tidak akan mengurangi penuh terima kasih dan syukurku kepada kalian, kawan-kawanku yang Tuhan beri ingat untuk mengingat hari lahirku dan mengucapkannya secara langsung. 

     Bukan hanya doa yang sama untuk kalian, tapi kuharap berjuta-juta Tuhan mengirim balas lebih dan lebih lagi.

    Tulisan ini kulahirkan di bulan yang sangat kucintai, bulan kelahiran. Apakah ini bentuk perayaan di usia yang semakin senja? haha. Anggap saja begitu.

.

.

.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERITA PENDEK - PEREMPUAN DI BATAS KUTUKAN