JURU KAWIH

Sumber: pinterest.com

“Trang-trang koléntrang
Si londok paéh nundutan
Tikusruk kana durukan
Mesat gobang kabuyutan”

Dua minggu lalu ada panggilan tanpa nama masuk ke ponselku. Pukul dua pagi. Oh, bukan. Arloji di meja televisi di depanku menunjukkan angka 01.54 pagi. Hampir pukul dua. Kusingkap sedikit bantal yang menghalangi meja sebelah sofa yang kutiduri, di atas sana layar ponselku menyala. Panggilan masuk.

Aku kira saat itu aku sedang bermimpi. Membayangkan panggilan interview dari kantor-kantor yang kukirimi lamaran sepanjang sore tadi dalam perjalanan pulang ke rumah, membuat pikiran itu ikut merasuki alam bawah sadarku. Bermimpi mendapat telepon pekerjaan. Ternyata panggilan masuk itu bukan datang dari mimpi. Sial! Sudah satu minggu mengirimi surat lamaran ke berbagai kantor, perusahaan, instansi, bahkan melamar ke bengkel mobil dan toko agen di pasar tradisional. Sore tadi aku terlibat obrolan dengan kawan-kawan kampusku dulu. Kami baru saja merayakan pernikahan salah satu kawan dan sepulang dari pesta itu kami mampir ke sebuah kafe dekat stasiun. Pertanyaan basi seputar berbagi cerita kehidupan pun dimulai. Jujur saja, aku muak dengan perbincangan itu.

Pasalnya, apa yang bisa dibanggakan dari diriku yang tidak punya—atau belum ada—pekerjaan ini. Satu-satunya yang bisa aku ceritakan hanya perjalanan hubunganku dengan perempuan negeri ini yang sudah kupacari selama tiga tahun. Nantilah akan aku ceritakan tentang pacarku yang manis itu. Butuh suasana manis untuk menuliskan tentang dirinya, tapi kalau masalah pekerjaan, aku hanya bisa menjawabnya dengan senyuman palsu sambil berujar, belum rezeki, nanti pasti akan menghampiri.

Di seberang sana seseorang masih menungguku menjawab panggilannya. Aku masih bersabar untuk mengabaikan panggilan gila itu. Kepalaku sakit sekali, sisa mabuk dan bercinta dengan pacarku yang manis itu masih terasa kuat. Ditambah lagi harus dibangunkan dengan panggilan telepon bangsat yang kian membuat kepalaku bertambah pusing. Masih sayup kudengar siaran televisi yang tidak dimatikan oleh pacarku yang manis itu. Selesai bercinta ia pergi berpamitan hendak ke rumah orang tuanya di luar kota untuk menghabiskan akhir pekan. Sementara aku tidak merencanakan apa-apa untuk membunuh akhir pekanku. Pacarku yang manis itu tidak mabuk, karenanya ia bisa menyelimutiku dengan benar dan menutup pintu rumahku dengan rapat saat pergi.

Sejujurnya, aku membenci nada dering panggilan masuk. Apalagi sekarang pukul dua pagi. Orang tolol mana yang meneleponku. Kabar penting apa yang dibawanya sampai tidak bisa menunggu esok hari. Aku tidak pernah menerima panggilan telepon darurat lagi. Sudah lama tidak pernah mendapat panggilan semacam itu. Terakhir kali panggilan semacam itu datang dari kampung mengabari kalau ibuku sudah delapan hari tidak pulang ke rumah. Ibu berkebun setiap hari, pergi ke kebun sehabis subuh dan kembali ke rumah menjelang zuhur, kadang juga kembali lagi ke kebun selepas asar dan pulang ke rumah sebelum azan magrib di surau berkumandang. Sepanjang hidupnya tidak pernah sekali pun ia keluar dari kampungnya itu—yang juga kampung tempat kecilku tinggal. Ibu menghabiskan seluruh tubuh dan masa hidupnya di sana. Orang tuanya yang juga adalah kakek dan nenekku tidak sekali pun menapaki kakinya di tanah orang lain. Saat panggilan telepon itu mengabariku bahwa ibu sudah tidak pulang ke rumah selama delapan hari aku sudah menduganya kalau suatu hari nanti sesuatu akan terjadi pada keluargaku.

Panggilan telepon itu mati dan berdering lagi berkali-kali. Gila! Aku bisa gila! Telepon itu tidak mau menyerah juga. Memang tolol orang yang menelepon pagi-pagi buta begini. Apa tidak bisa meneleponku besok pagi saja? Panggilan pertama, kuabaikan. Panggilan kedua, panggilan ketiga, keempat, kelima dan panggilan ke delapan aku menyerah. Seseorang bicara dengan nada rendah mengabariku, dia mengatakan bahwa ‘ibumu ditemukan, segeralah pulang’, lalu bunyi bip telepon dimatikan. Orang itu menutup teleponnya bahkan sebelum aku bilang ‘halo’ padanya. Oh, rasanya tidak akan ada sapaan seperti itu. Aku ingin meneriakinya dan menyerapahi orang di seberang teleponku itu. Kusingkap selimut dengan kesadaran yang sepenuhnya sudah kembali. 

Bagaimana maksudnya? Aku masih tidak mau mencerna satu kalimat singkat yang dikatakan penelepon itu.

Ibumu ditemukan, segeralah pulang.

Kata-kata itu terngiang di dalam kepalaku sampai pagi datang. Kalimat itu mengikutiku dari kamar, ke kamar mandi, saat aku membuang sampah, mengambil koran langganan di depan pintu, memasukkan kain kotor sehabis bercinta ke mesin cuci, dan berakhir di dapur untuk sarapan. Ibuku ditemukan dan aku harus pulang. Tapi, seribu pertanyaan terus menguasai kepalaku. Di mana ibuku ditemukan? Ke mana ibuku selama ini? Dan kenapa aku harus pulang? Bahkan saat aku pergi meninggalkan kampung tidak sedikit pun ibu menahanku untuk tetap tinggal.

Untuk beberapa saat aku terduduk di pantry menghadap televisi kecil dengan keengganan mengunyah sekerat roti sobek yang kubeli kemarin di kafe. Di sebelah televisi itu ada perapian yang sudah padam sebelum aku tidur semalam. Aku menatap kosong ke arah perapian, padahal televisi di sebelahnya menyala, menyiarkan siaran ulang film kartun di akhir pekan. Aku menangkap abu-abu perapian sisa semalam berterbangan kecil menuju corong asap di atasnya. Abu-abu itu terus naik ke arah corong, dan saat mencapai atap bersiap terbang bebas memenuhi udara luas.

Di sini sudah winter, jadi setiap malam aku akan menyalakan perapian untuk menghangatkan tubuhku, hingga menemaniku bercinta dengan pacarku yang manis itu di ruang tengah. Aku dan pacarku yang manis itu selalu nyaman bercinta di ruang tengah. Aku dan pacarku yang manis itu suka bercinta di depan perapian untuk menambah keromantisan di ruang ini.

Roti sobek di tanganku belum juga habis. Aku terus memikirkan ucapan orang di telepon itu. Ibumu ditemukan, segeralah pulang. Aku melempar roti sobek itu ke tempat sampah, mematikan televisi dan melempar remote-nya sembarang ke sofa. Naik ke kamar berganti pakaian, mengenakan wintercoat, kaos kaki tebal, dan memasukkan paspor, dompet, dan ponselku ke dalam tas. Sebelum pergi, kusempatkan menulis pesan untuk pacarku yang manis itu dan menempelkannya di pintu kulkas. Aku pergi, tidak janji akan pulang. Kau boleh membawa siapa pun ke rumah ini. Jangan pernah menungguku.

“Masih ingat lagu yang selalu kita nyanyikan waktu itu?” seseorang datang mengenakan payung. Dia menyerahkan satu payung di tangannya kepadaku. Aku mengambilnya.

“Kau yang meneleponku?”

“Bapak yang meminta aku mengabarimu, katanya ibumu ingin bertemu,” katanya lalu duduk di sampingku. Kami memandang ke depan, cipratan air hujan yang mengenai sepatuku menjadi tontonan kami. Tampias yang terus membasahi atap balai ini mengenai baju dan ujung celanaku. Balai ini masih ada, tidak berubah. Hanya beberapa bagiannya yang sudah lapuk karena usia. Tapi kondisi keseluruhannya masih sama. Ketika aku memutuskan untuk meninggalkan kampung, balai ini adalah tempat pertama yang akan kusinggahi kala aku pulang, janjiku kepada diriku seorang. Sekarang aku di sini, dua puluh tahun berlalu.

Dahulu balai ini tempat bermain kami. Kami terbiasa ngariung sepulang sekolah sambil membawa piring berisi nasi dan lauk dari rumah masing-masing. Di balai ini, hampir setiap hari aku dan kawan-kawan kecilku makan siang bersama sepulang sekolah. Kami menyebutnya papadangan. Makan siang bersama di kampungku merupakan kegiatan yang biasa dilakukan oleh anak-anak sepulang sekolah. Kami berlarian pulang ke rumah, melemparkan tas sekolah ke sembarang arah, melepas seragam dan menggantinya dengan seragam main. Bergegas menuju dapur, menyiuk nasi dan lauk. Berlarian membawa piring itu ke balai. Di antara kami selalu ada yang membawa nasi tanpa lauk dan masing-masing kami pasti akan membaginya barang sedikit. Aku adalah anak yang tidak jarang hanya membawa nasi di atas piring makannya. Dan perempuan di sampingku ini yang tidak bosan menawarkan lauk di piringnya untukku.

“Dahulu kita tidak pernah menghindari hujan bukan?” dia bertanya memecah lamunanku. Pandangannya masih menerawang menembus hujan. Aku tidak menjawab.

“Kita malah berseru meninggalkan balai ini bertelanjang kaki ke depan sana?” ia menunjuk tanah lapang di depan kami. Aku masih ingat rasanya bermain hujan di tanah itu, berlarian dan memainkan sondah bertemankan becek hujan. Seru.

“Kita bermain hujan sambil bernyanyi.”

“Jangan nyanyikan kawih itu.”

Dia menengok ke arahku. Pandangan matanya menyimpan kecewa sekaligus menuntut jawab dari mataku. Aku tidak membalas tatapannya itu. Aku tahu dia tidak akan mengungkapkan kecewanya secara langsung padaku. Aku tahu ia kecewa dan sakit hati padaku. Kepergianku adalah keputusan yang kubuat sendiri setelah aku dan dia melakukan suatu pekerjaan yang hasilnya menjelma mimpi-mimpi buruk setelah itu. Tapi sejak dia datang menjemputku di sini dan membawakan payung untukku, aku tahu kami saling menahan untuk mengujarkan rindu. 

“Kau berada di mana selama ini?”

Arah pandangnya kembali diarahkan ke depan. Nada pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari bibirnya. Seolah pertanyaan itu sudah lama terpendam jauh di kerongkongannya, suaranya hampir parau. Aku selalu suka keberanian dalam dirinya. Perempuan di hadapanku ini selalu bertindak lebih cepat dan hati-hati. Bahkan untuk hal ini, meski ia tahu aku tidak akan memberikan jawaban apapun tentang ke mana aku lari selama ini, pertanyaan itu tetap mengudara keluar dari bibirnya. Ah, bibir itu, aku juga merindukannya.

Suatu waktu di sore hari, seingatku menjelang kelulusan, aku dan dia duduk di sini. Kami membahas akan melanjutkan sekolah ke mana.  

"Aku akan tetap di sini. Aku tidak perlu melanjutkan sekolah."

"Aku sekolah, kau juga. Kita bisa ke luar dari kampung ini."

"Apa kata Bapakku? Ibu akan sedih berkepanjangan aku pergi meninggalkan rumah." dia beralasan. Aku tahu apa yang menjadi ketakutannya. Ia adalah anak perempuan yang sudah ditakdirkan oleh orang-orang menjadi Mak Buyut.

Mak Buyut. Begitulah orang-orang kampung kami memanggilnya. Ia adalah kehidupan masa kanak-kanak kami. Mak Buyut sosok yang mengenalkan kami dengan kakawihan. Ia mengajari kami bagaimana menembangkan satu, dua, tiga, empat kawih diiringi kaulinan yang bisa kami mainkan. Mak Buyut mengenal kami lebih dekat dan dalam daripada orang tua kami sendiri. Mak Buyut adalah masa kanak kami. Sepulang sekolah selepas papadangan, Mak Buyut datang menuju balai tempat kami ngariung.

"Mak Buyut datang!!!" Anak yang pertama kali melihat Mak Buyut akan bersorak. Mak Buyut melambaikan tangan ke arah kami, kemudian ikut bergabung duduk di balai bersama anak-anak perempuan.

Anak laki-laki akan berlarian ke tanah lapang, menggelar adu koleci. Koleci adalah permainan gundu yang biasa dimainkan oleh anak laki-laki. Kami beradu bergantian saling sentil koleci itu. Kalau tidak ada kelereng kami akan menggunakan kemiri sebagai penggantinya. Kemiri itu kami dapatkan dari dapur rumah kami masing-masing. Sepulang bermain, kami akan mengembalikan kemiri itu ke tempat asalnya jika tidak ingin terkena amuk ibu.

Sementara itu, anak-anak perempuan akan berkumpul di balai bersama Mak Buyut untuk menembangkan kakawihan atau semacam pupuh-pupuh yang juga kami pelajari di sekolah. Anak laki-laki akan mengakui dari kejauhan bahwa suara Mak Buyut paling indah dan merdu di antara anak-anak perempuan yang mengikutinya berdendang. Tapi suara satu anak perempuan membuatku ikut terkesima. Suaranya hampir merdu mendekati suara Mak Buyut. Tentu saja aku tidak akan memujinya secara langsung. Anak perempuan itu akan bersemu merah kalau kupuji bahwa suaranya merdu. Biarkan saja, ia terus bernyanyi seperti itu. Aku menikmatinya.

Hanya ada satu lagu yang akan kami nyanyikan bersama. Dinyanyikan oleh semua anak-anak yang bermain di balai, laki-laki dan perempuan. Mak Buyut yang mengatakan bahwa kawih ini harus dinyanyikan bersama-sama. Kawih ini hanya boleh dinyanyikan saat kami bermain hujan bersama. Lagu ini akan membuat kalian menjadi anak-anak yang sehat dan bermain hujan akan terasa lebih mengasyikan, katanya kepada kami saat mengajari lagu itu untuk pertama kali.

“Apa judul lagu ini, Mak?” seorang anak bertanya pada Mak Buyut.

“Trang-Trang Kolentrang.”

Begitulah Mak Buyut mengajari kami satu kawih yang akan kami nyanyikan bersama setiap kali bermain hujan.

"Aku ingin bernyanyi."

"Tidak perlu."

"Kenapa?"

"Kita tidak sedang bermain hujan."

Ia melipat payungnya, meletakkannya di sampingku lalu berdiri. Kemudian ia berjalan ke depan menembus hujan. Berjalan hingga ke tengah lapang dan berdiri di sana. Aku hanya menatapnya tidak beranjak. Aku menerawang jauh ke masa kecil kami.

Mak Buyut adalah orang yang berjasa mengajarkan anak-anak di kampungku bernyanyi. Konon dulu ia adalah ahli dongeng dan sinden paling terkemuka semasa mudanya. Ketika suaranya membuat orang-orang ingin menikmatinya, tubuhnya ikut ia jual kepada penjabat-penjabat di desa dan kabupaten. Betapa beruntungnya mereka yang bisa menyaksikan tubuh dan suara muda dan ranumnya masa muda Mak Buyut. Kami hanya mendengar itu dari para warga yang sesekali bertanya apa pekerjaan Mak Buyut saban hari di balai tanah lapang. Mak Buyut sering juga duduk-duduk di balai ini setiap sore. Darinyalah kami mengenal kakawihan, lagu dalam permainan anak-anak.

"Trang... trang kolentrang…"                 

Perempuan di hadapanku mulai bernyanyi dan berjalan mengelilingi tanah lapang. Bajunya sudah kuyup. Rok selutut yang dipakainya memperlihatkan lipatan celana dalam yang membungkus bagian bawahnya. Dada ranum itu membuatku teringat bahwa aku pernah melihat dan menyentuh dagingnya.

Aku pernah melakukan itu. Aku dan perempuan yang bermain hujan itu pernah melakukannya di balai ini. kami melakukannya satu hari sebelum aku pergi meninggalkan kampung. Kepergianku bukan karena kami pernah melakukannya. Aku membuka sepatuku, melepas jaket dan topi yang kukenakan. Aku berjalan menuju ke arah perempuan itu bermain hujan. Ia menyambutku. Kami berpelukan tanpa jarak. Tangisnya pecah.

“Bagaimana kau bisa pergi begitu lama?”

“Maafkan aku, Mak Buyut masih terus mengikutiku.”

“Kita tidak akan pernah menghindarinya lagi. Kumohon menetaplah di sini. Biarkan aku menggantikan Mak Buyut. Kita sudah membunuhnya saat itu juga.”

Suatu sore menjelang magrib, aku dan perempuan ini tidak bermain hujan seperti biasanya. Kami duduk berdua di balai, tidak ada teman-teman lain. Masa itu aku melihat perempuan ini tumbuh lebih cepat dari anak-anak perempuan seumurannya. Anak perempuan ini adalah orang yang kuakui memiliki suara merdu saat mendendangkan kawih yang diajarkan Mak Buyut. Susana sore itu di balai membuat kewarasanku nekat menyentuh bibir anak perempuan ini. Dia tidak menolak. Aku adalah anak laki-laki pertama yang menyentuh bibirnya. Kami tenggelam di balai.

Mak Buyut menyaksikan kami di pinggir balai. Dia tidak mengucapkan apa pun. Saat itu aku dan anak perempuan ini panik dan ketakutan. Mak Buyut pasti akan melaporkannya kepada orang tua kami. Mak Buyut tidak mengatakan apa-apa, tetapi raut wajahnya amat menyeramkan. Anak perempuan itu terus memohon kepada Mak Buyut. Dia menangis di hadapannya.

Kewarasanku belum juga kembali, aku dekati anak perempuan itu dan melakukan pekerjaan kedua, membunuh Mak Buyut. Kami menghabisi Mak Buyut di balai tempatku bergumul bersama perempuan itu. Mak Buyut diam saja, tidak menolak apalagi berlari. Kami seperti membunuh kekosongan. Hanya tangis anak perempuan itu ditemani suara hujan yang kian deras dan aku yang memeluk perempuan itu.

Kini anak perempuan itu telah tumbuh. Di hadapanku sekarang kami berpelukan. Dia terus menangis dan meraung seolah banyak hal yang ia tahan 20 tahun kepergianku. Aku menyentuh bibirnya lagi.

“Mari kita hidup tinggal di sini. Kau dan aku jadi juru kawih.” Kami berpelukan. Kami berdiri lama di tanah lapang. Berciuman dan berpelukan. Ia sudah berhenti menangis.

"Ayo, kita pulang. Ibumu sudah kedinginan di dalam keranda." Sekali lagi dia mengecup bibirku.

Kami berpelukan. Aku menghadap balai dan melihat Mak Buyut duduk di sana. Penampilannya masih sama saat kami menghabisinya malam itu. Kebaya corak bunga dengan samping batik coklat lusuh. Hanya satu yang berbeda, Mak Buyut berias dan rambutnya panjang terurai.

 

  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HARI AGUNG: HARI LAHIR TANPA PERAYAAN

CERITA PENDEK - PEREMPUAN DI BATAS KUTUKAN