JURU KAWIH
“Trang-trang
koléntrang
Si londok paéh
nundutan
Tikusruk
kana durukan
Mesat
gobang kabuyutan”
Dua
minggu lalu ada panggilan tanpa nama masuk ke ponselku. Pukul dua pagi. Oh,
bukan. Arloji di meja televisi di depanku menunjukkan angka 01.54 pagi. Hampir
pukul dua. Kusingkap sedikit bantal yang menghalangi meja
sebelah sofa yang kutiduri, di atas sana layar ponselku menyala. Panggilan masuk.
Aku kira saat itu aku sedang bermimpi. Membayangkan panggilan interview dari
kantor-kantor yang kukirimi lamaran sepanjang sore tadi dalam perjalanan
pulang ke rumah, membuat pikiran itu ikut merasuki alam bawah sadarku. Bermimpi
mendapat telepon pekerjaan. Ternyata panggilan masuk itu bukan datang dari
mimpi. Sial! Sudah satu minggu mengirimi surat lamaran ke berbagai kantor,
perusahaan, instansi, bahkan melamar ke bengkel mobil dan toko agen di pasar
tradisional. Sore tadi aku terlibat obrolan dengan kawan-kawan kampusku dulu. Kami
baru saja merayakan pernikahan salah satu kawan dan sepulang dari pesta itu
kami mampir ke sebuah kafe dekat stasiun. Pertanyaan basi seputar berbagi cerita
kehidupan pun dimulai. Jujur saja, aku muak dengan perbincangan itu.
Pasalnya,
apa yang bisa dibanggakan dari diriku yang tidak punya—atau belum ada—pekerjaan
ini. Satu-satunya yang bisa aku ceritakan hanya perjalanan hubunganku dengan
perempuan negeri ini yang sudah kupacari selama tiga tahun. Nantilah akan aku
ceritakan tentang pacarku yang manis itu. Butuh suasana manis untuk menuliskan
tentang dirinya, tapi kalau masalah pekerjaan, aku hanya bisa menjawabnya
dengan senyuman palsu sambil berujar, belum rezeki, nanti pasti akan
menghampiri.
Di
seberang sana seseorang masih menungguku menjawab panggilannya. Aku masih
bersabar untuk mengabaikan panggilan gila itu. Kepalaku sakit sekali, sisa
mabuk dan bercinta dengan pacarku yang manis itu masih terasa kuat. Ditambah lagi harus
dibangunkan dengan panggilan telepon bangsat yang kian membuat kepalaku
bertambah pusing. Masih sayup kudengar siaran televisi yang tidak dimatikan
oleh pacarku yang manis itu. Selesai bercinta ia pergi berpamitan hendak ke
rumah orang tuanya di luar kota untuk menghabiskan akhir pekan. Sementara aku tidak merencanakan
apa-apa untuk membunuh akhir pekanku. Pacarku yang manis itu tidak
mabuk, karenanya ia bisa menyelimutiku dengan benar dan menutup pintu rumahku
dengan rapat saat pergi.
Sejujurnya,
aku membenci nada dering panggilan masuk. Apalagi sekarang pukul dua pagi. Orang
tolol mana yang meneleponku. Kabar penting apa yang dibawanya sampai tidak bisa
menunggu esok hari. Aku tidak pernah menerima panggilan telepon darurat lagi.
Sudah lama tidak pernah mendapat panggilan semacam itu. Terakhir kali panggilan
semacam itu datang dari kampung mengabari kalau ibuku sudah delapan hari tidak
pulang ke rumah. Ibu berkebun setiap hari, pergi ke kebun sehabis subuh dan kembali
ke rumah menjelang zuhur, kadang juga kembali lagi ke kebun selepas asar dan
pulang ke rumah sebelum azan magrib di surau berkumandang. Sepanjang hidupnya tidak
pernah sekali pun ia keluar dari kampungnya itu—yang juga kampung tempat kecilku
tinggal. Ibu menghabiskan seluruh tubuh dan masa hidupnya di sana. Orang tuanya
yang juga adalah kakek dan nenekku tidak sekali pun menapaki kakinya di tanah
orang lain. Saat panggilan telepon itu mengabariku bahwa ibu sudah tidak pulang
ke rumah selama delapan hari aku sudah menduganya kalau suatu hari nanti
sesuatu akan terjadi pada keluargaku.
Panggilan telepon itu mati dan berdering lagi berkali-kali. Gila! Aku bisa gila! Telepon itu tidak mau menyerah juga. Memang tolol orang yang menelepon pagi-pagi buta begini. Apa tidak bisa meneleponku besok pagi saja? Panggilan pertama, kuabaikan. Panggilan kedua, panggilan ketiga, keempat, kelima dan panggilan ke delapan aku menyerah. Seseorang bicara dengan nada rendah mengabariku, dia mengatakan bahwa ‘ibumu ditemukan, segeralah pulang’, lalu bunyi bip telepon dimatikan. Orang itu menutup teleponnya bahkan sebelum aku bilang ‘halo’ padanya. Oh, rasanya tidak akan ada sapaan seperti itu. Aku ingin meneriakinya dan menyerapahi orang di seberang teleponku itu. Kusingkap selimut dengan kesadaran yang sepenuhnya sudah kembali.
Bagaimana maksudnya? Aku masih tidak mau mencerna satu kalimat
singkat yang dikatakan penelepon itu.
Ibumu
ditemukan, segeralah pulang.
Kata-kata
itu terngiang di dalam kepalaku sampai pagi datang. Kalimat itu mengikutiku
dari kamar, ke kamar mandi, saat aku membuang sampah, mengambil koran langganan
di depan pintu, memasukkan kain kotor sehabis bercinta ke mesin cuci, dan
berakhir di dapur untuk sarapan. Ibuku ditemukan dan aku harus pulang. Tapi,
seribu pertanyaan terus menguasai kepalaku. Di mana ibuku ditemukan? Ke mana
ibuku selama ini? Dan kenapa aku harus pulang? Bahkan saat aku pergi
meninggalkan kampung tidak sedikit pun ibu menahanku untuk tetap tinggal.
Untuk
beberapa saat aku terduduk di pantry menghadap televisi kecil dengan
keengganan mengunyah sekerat roti sobek yang kubeli kemarin di kafe. Di sebelah
televisi itu ada perapian yang sudah padam sebelum aku tidur semalam. Aku
menatap kosong ke arah perapian, padahal televisi di sebelahnya menyala,
menyiarkan siaran ulang film kartun di akhir pekan. Aku menangkap abu-abu
perapian sisa semalam berterbangan kecil menuju corong asap di atasnya. Abu-abu
itu terus naik ke arah corong, dan saat mencapai atap bersiap terbang bebas
memenuhi udara luas.
Di
sini sudah winter, jadi setiap malam aku akan menyalakan perapian untuk
menghangatkan tubuhku, hingga menemaniku bercinta dengan pacarku yang manis itu
di ruang tengah. Aku dan pacarku yang manis itu selalu nyaman bercinta di ruang
tengah. Aku dan pacarku yang manis itu suka bercinta di depan perapian untuk
menambah keromantisan di ruang ini.
Roti
sobek di tanganku belum juga habis. Aku terus memikirkan ucapan orang di
telepon itu. Ibumu ditemukan, segeralah pulang. Aku melempar roti sobek itu
ke tempat sampah, mematikan televisi dan melempar remote-nya sembarang
ke sofa. Naik ke kamar berganti pakaian, mengenakan wintercoat, kaos
kaki tebal, dan memasukkan paspor, dompet, dan ponselku ke dalam tas. Sebelum pergi,
kusempatkan menulis pesan untuk pacarku yang manis itu dan menempelkannya di
pintu kulkas. Aku pergi, tidak janji akan pulang. Kau boleh membawa siapa
pun ke rumah ini. Jangan pernah menungguku.
“Masih
ingat lagu yang selalu kita nyanyikan waktu itu?” seseorang datang mengenakan
payung. Dia menyerahkan satu payung di tangannya kepadaku. Aku mengambilnya.
“Kau
yang meneleponku?”
“Bapak
yang meminta aku mengabarimu, katanya ibumu ingin bertemu,” katanya lalu duduk
di sampingku. Kami memandang ke depan, cipratan air hujan yang mengenai
sepatuku menjadi tontonan kami. Tampias yang terus membasahi atap balai ini
mengenai baju dan ujung celanaku. Balai ini masih ada, tidak berubah. Hanya
beberapa bagiannya yang sudah lapuk karena usia. Tapi kondisi keseluruhannya
masih sama. Ketika aku memutuskan untuk meninggalkan kampung, balai ini adalah
tempat pertama yang akan kusinggahi kala aku pulang, janjiku kepada diriku
seorang. Sekarang aku di sini, dua puluh tahun berlalu.
Dahulu
balai ini tempat bermain kami. Kami terbiasa ngariung sepulang sekolah
sambil membawa piring berisi nasi dan lauk dari rumah masing-masing. Di balai
ini, hampir setiap hari aku dan kawan-kawan kecilku makan siang bersama
sepulang sekolah. Kami menyebutnya papadangan. Makan siang bersama di
kampungku merupakan kegiatan yang biasa dilakukan oleh anak-anak sepulang sekolah.
Kami berlarian pulang ke rumah, melemparkan tas sekolah ke sembarang arah,
melepas seragam dan menggantinya dengan seragam main. Bergegas menuju dapur,
menyiuk nasi dan lauk. Berlarian membawa piring itu ke balai. Di antara kami
selalu ada yang membawa nasi tanpa lauk dan masing-masing kami pasti akan
membaginya barang sedikit. Aku adalah anak yang tidak jarang hanya membawa nasi
di atas piring makannya. Dan perempuan di sampingku ini yang tidak bosan
menawarkan lauk di piringnya untukku.
“Dahulu
kita tidak pernah menghindari hujan bukan?” dia bertanya memecah lamunanku.
Pandangannya masih menerawang menembus hujan. Aku tidak menjawab.
“Kita
malah berseru meninggalkan balai ini bertelanjang kaki ke depan sana?” ia
menunjuk tanah lapang di depan kami. Aku masih ingat rasanya bermain hujan di
tanah itu, berlarian dan memainkan sondah bertemankan becek hujan. Seru.
“Kita
bermain hujan sambil bernyanyi.”
“Jangan
nyanyikan kawih itu.”
Dia
menengok ke arahku. Pandangan matanya menyimpan kecewa sekaligus menuntut jawab
dari mataku. Aku tidak membalas tatapannya itu. Aku tahu dia tidak akan
mengungkapkan kecewanya secara langsung padaku. Aku tahu ia kecewa dan sakit
hati padaku. Kepergianku adalah keputusan yang kubuat sendiri setelah aku dan
dia melakukan suatu pekerjaan yang hasilnya menjelma mimpi-mimpi buruk setelah
itu. Tapi sejak dia datang menjemputku di sini dan membawakan payung untukku,
aku tahu kami saling menahan untuk mengujarkan rindu.
“Kau
berada di mana selama ini?”
Arah
pandangnya kembali diarahkan ke depan. Nada pertanyaan itu akhirnya keluar juga
dari bibirnya. Seolah pertanyaan itu sudah lama terpendam jauh di
kerongkongannya, suaranya hampir parau. Aku selalu suka keberanian dalam
dirinya. Perempuan di hadapanku ini selalu bertindak lebih cepat dan hati-hati.
Bahkan untuk hal ini, meski ia tahu aku tidak akan memberikan jawaban apapun
tentang ke mana aku lari selama ini, pertanyaan itu tetap mengudara keluar dari
bibirnya. Ah, bibir itu, aku juga merindukannya.
Suatu
waktu di sore hari, seingatku menjelang kelulusan, aku dan dia duduk di sini.
Kami membahas akan melanjutkan sekolah ke mana.
"Aku
akan tetap di sini. Aku tidak perlu melanjutkan sekolah."
"Aku
sekolah, kau juga. Kita bisa ke luar dari kampung ini."
"Apa
kata Bapakku? Ibu akan sedih berkepanjangan aku pergi meninggalkan rumah."
dia beralasan. Aku tahu apa yang menjadi ketakutannya. Ia adalah anak perempuan
yang sudah ditakdirkan oleh orang-orang menjadi Mak Buyut.
Mak
Buyut. Begitulah orang-orang kampung kami memanggilnya. Ia adalah kehidupan
masa kanak-kanak kami. Mak Buyut sosok yang mengenalkan kami dengan kakawihan.
Ia mengajari kami bagaimana menembangkan satu, dua, tiga, empat kawih diiringi kaulinan
yang bisa kami mainkan. Mak Buyut mengenal kami lebih dekat dan dalam daripada
orang tua kami sendiri. Mak Buyut adalah masa kanak kami. Sepulang sekolah
selepas papadangan, Mak Buyut datang menuju balai tempat kami ngariung.
"Mak
Buyut datang!!!" Anak yang pertama kali melihat Mak Buyut akan bersorak.
Mak Buyut melambaikan tangan ke arah kami, kemudian ikut bergabung duduk di
balai bersama anak-anak perempuan.
Anak
laki-laki akan berlarian ke tanah lapang, menggelar adu koleci. Koleci
adalah permainan gundu yang biasa dimainkan oleh anak laki-laki. Kami beradu
bergantian saling sentil koleci itu. Kalau tidak ada kelereng kami akan
menggunakan kemiri sebagai penggantinya. Kemiri itu kami dapatkan dari dapur
rumah kami masing-masing. Sepulang bermain, kami akan mengembalikan kemiri itu
ke tempat asalnya jika tidak ingin terkena amuk ibu.
Sementara
itu, anak-anak perempuan akan berkumpul di balai bersama Mak Buyut untuk
menembangkan kakawihan atau semacam pupuh-pupuh yang juga kami pelajari
di sekolah. Anak laki-laki akan mengakui dari kejauhan bahwa suara Mak Buyut
paling indah dan merdu di antara anak-anak perempuan yang mengikutinya
berdendang. Tapi suara satu anak perempuan membuatku ikut terkesima. Suaranya
hampir merdu mendekati suara Mak Buyut. Tentu saja aku tidak akan memujinya
secara langsung. Anak perempuan itu akan bersemu merah kalau kupuji bahwa
suaranya merdu. Biarkan saja, ia terus bernyanyi seperti itu. Aku menikmatinya.
Hanya
ada satu lagu yang akan kami nyanyikan bersama. Dinyanyikan oleh semua
anak-anak yang bermain di balai, laki-laki dan perempuan. Mak Buyut yang
mengatakan bahwa kawih ini harus dinyanyikan bersama-sama. Kawih ini hanya
boleh dinyanyikan saat kami bermain hujan bersama. Lagu ini akan membuat kalian
menjadi anak-anak yang sehat dan bermain hujan akan terasa lebih mengasyikan,
katanya kepada kami saat mengajari lagu itu untuk pertama kali.
“Apa
judul lagu ini, Mak?” seorang anak bertanya pada Mak Buyut.
“Trang-Trang
Kolentrang.”
Begitulah
Mak Buyut mengajari kami satu kawih yang akan kami nyanyikan bersama setiap
kali bermain hujan.
"Aku
ingin bernyanyi."
"Tidak
perlu."
"Kenapa?"
"Kita
tidak sedang bermain hujan."
Ia
melipat payungnya, meletakkannya di sampingku lalu berdiri. Kemudian ia
berjalan ke depan menembus hujan. Berjalan hingga ke tengah lapang dan berdiri
di sana. Aku hanya menatapnya tidak beranjak. Aku menerawang jauh ke masa kecil
kami.
Mak
Buyut adalah orang yang berjasa mengajarkan anak-anak di kampungku bernyanyi.
Konon dulu ia adalah ahli dongeng dan sinden paling terkemuka semasa mudanya.
Ketika suaranya membuat orang-orang ingin menikmatinya, tubuhnya ikut ia jual
kepada penjabat-penjabat di desa dan kabupaten. Betapa beruntungnya mereka yang
bisa menyaksikan tubuh dan suara muda dan ranumnya masa muda Mak Buyut. Kami
hanya mendengar itu dari para warga yang sesekali bertanya apa pekerjaan Mak
Buyut saban hari di balai tanah lapang. Mak Buyut sering juga duduk-duduk di
balai ini setiap sore. Darinyalah kami mengenal kakawihan, lagu dalam
permainan anak-anak.
"Trang... trang kolentrang…"
Perempuan di hadapanku mulai bernyanyi dan
berjalan mengelilingi tanah lapang. Bajunya sudah kuyup. Rok selutut yang
dipakainya memperlihatkan lipatan celana dalam yang membungkus bagian bawahnya.
Dada ranum itu membuatku teringat bahwa aku pernah melihat dan menyentuh dagingnya.
Aku pernah melakukan itu. Aku dan
perempuan yang bermain hujan itu pernah melakukannya di balai ini. kami
melakukannya satu hari sebelum aku pergi meninggalkan kampung. Kepergianku
bukan karena kami pernah melakukannya. Aku membuka sepatuku, melepas jaket dan
topi yang kukenakan. Aku berjalan menuju ke arah perempuan itu bermain hujan.
Ia menyambutku. Kami berpelukan tanpa jarak. Tangisnya pecah.
“Bagaimana kau bisa pergi begitu lama?”
“Maafkan aku, Mak Buyut masih terus
mengikutiku.”
“Kita tidak akan pernah menghindarinya
lagi. Kumohon menetaplah di sini. Biarkan aku menggantikan Mak Buyut. Kita
sudah membunuhnya saat itu juga.”
Suatu sore menjelang magrib, aku dan
perempuan ini tidak bermain hujan seperti biasanya. Kami duduk berdua di balai,
tidak ada teman-teman lain. Masa itu aku melihat perempuan ini tumbuh lebih
cepat dari anak-anak perempuan seumurannya. Anak perempuan ini adalah orang
yang kuakui memiliki suara merdu saat mendendangkan kawih yang diajarkan
Mak Buyut. Susana sore itu di balai membuat kewarasanku nekat menyentuh bibir
anak perempuan ini. Dia tidak menolak. Aku adalah anak laki-laki pertama yang
menyentuh bibirnya. Kami tenggelam di balai.
Mak Buyut menyaksikan kami di pinggir
balai. Dia tidak mengucapkan apa pun. Saat itu aku dan anak perempuan ini panik
dan ketakutan. Mak Buyut pasti akan melaporkannya kepada orang tua kami. Mak
Buyut tidak mengatakan apa-apa, tetapi raut wajahnya amat menyeramkan. Anak
perempuan itu terus memohon kepada Mak Buyut. Dia menangis di hadapannya.
Kewarasanku belum juga kembali, aku dekati
anak perempuan itu dan melakukan pekerjaan kedua, membunuh Mak Buyut. Kami
menghabisi Mak Buyut di balai tempatku bergumul bersama perempuan itu. Mak
Buyut diam saja, tidak menolak apalagi berlari. Kami seperti membunuh
kekosongan. Hanya tangis anak perempuan itu ditemani suara hujan yang kian deras dan aku yang memeluk perempuan itu.
Kini anak perempuan itu telah
tumbuh. Di hadapanku sekarang kami berpelukan. Dia terus menangis dan meraung
seolah banyak hal yang ia tahan 20 tahun kepergianku. Aku menyentuh bibirnya lagi.
“Mari kita hidup tinggal di sini. Kau dan
aku jadi juru kawih.” Kami berpelukan. Kami berdiri lama di tanah lapang.
Berciuman dan berpelukan. Ia sudah berhenti menangis.
"Ayo,
kita pulang. Ibumu sudah kedinginan di dalam keranda." Sekali lagi dia
mengecup bibirku.
Kami
berpelukan. Aku menghadap balai dan melihat Mak Buyut duduk di sana.
Penampilannya masih sama saat kami menghabisinya malam itu. Kebaya corak bunga
dengan samping batik coklat lusuh. Hanya satu yang berbeda, Mak Buyut berias
dan rambutnya panjang terurai.

Komentar
Posting Komentar